Friday, 25 June 2010

Tradisi Kasta dan nama orang Bali

Seperti yg kita ketahui, sebagian besar masyarakat Bali memeluk agama Hindu. Atas dasar itulah sampai sekarang system kasta masih dapat dijumpai di Bali. Kasta merupakan peninggalan nenek moyang orang hindu diBali yg diwariskan dari generasi ke generasi. Pada zaman dahulu, kasta itu dibuat berdasarkan profesi masyarakat. Sampai saat ini diBali ada 4 kasta yaitu:

Brahmana, Ksatrya, Wesya dan Sudra

-Kasta Brahmana merupakan kasta dari masyarakat yg mempunyai profesi yg bergerak dibidang religi/agama seperti Pendeta. Dimana sampai sekarang mereka diberi gelar/title Ida Bagus (laki-laki) dan Ida Ayu (perempuan).

-Ksatrya; kasta dari masyarakat yg berprofesi sebagai abdi Negara/kerajaan (zaman dulu), yg diberi gelar Anak Agung.

-Wesya; kasta dari masyarakat yg berprofesi sebagai prajurit. Mereka diberi gelar Gusti Bagus (laki-laki) dan Gusti Ayu (perempuan).

-Sudra; ini adalah kasta yg terakhir diBali, dimana kasta Sudra tidak mempunyai gelar, mereka hanya dberi nama menurut urutan kelahiran seperti; Wayan (anak pertama), Made (kedua), Nyoman (ketiga) dan Ketut (keempat). Jika ada yg mempunyai lebih dari 4 orang anak namanya akan kembali lagi keurutan pertama (wayan), begitupun seterusnya.

Pada zaman dahulu masyarakat di Bali tidak boleh menikah dengan kasta yg berbeda. Seiring perkembangan zaman, aturan itu tidak berlaku lagi untuk saat ini. Mereka boleh menikah dengan kasta yg berbeda dengan syarat kasta yg perempuan harus mengikuti yg laki-laki. Jika kasta perempuan dari kasta yg tinggi, menikah dng kasta yg lebih rendah, maka kasta si perempuan akan turun mengikuti suaminya. Begitu juga sebaliknya, Karena di Bali laki-lakilah yg menjadi ahli waris dari generasi sebelumnya.



TRANSFORMASI KEKUASAAN SEBAGAI DAMPAK GLOBALISASI

(Study pada memudarnya sistem kasta di Karangasem)

1. Latar Belakang

Makalah ini mengambil tema transformasi kekuasaan dengan mengambil studi kasus pada memudarnya sistem kasta di Bali. Dimana dalam makalah ini berusaha untuk menggambarkan bagaimana globalisasi memberikan pengaruh terhadap memudarnya sistem kasta yang begitu mengakar dalam masyarakat Bali.

Penulisan makalah ini dilatarbelakangi oleh konsep bahwa kekuasaan merupakan sesuatu hal yang selalu diperebutkan di masyarakat dengan menguasai sumber-sumber kekuasaan yang ada di masyarakat. Kekuasaan akan selalu diperebutkan karena dengan kekuasaan seseorang akan dapat melakukan kepentingan politiknya dan bahkan menuntut kepatuhan dari seseorang. Sebagaimana pendapat dari Haryanto bahwa :

kekuasaan yang ada pada genggaman penguasa dapat dipergunakan untuk meredam agar kelompok yang seharusnya tunduk dan patuh tidak mengadakan gugatan atau perlawanan; dengan kekuasaan, kelompok yang disebut belakangan, suka atau tidak suka, dipaksa untuk tunduk dan patuh terhadap tatanan atau kebijaksanaan yang berlaku.
Masyarakat Bali dengan bentuk kehidupannya yang telah berjalan secara turun temurun sangat kuat pola patrimonialismenya yang ditandai dengan adanya sistem kasta. Dengan kuatnya pola itu menyebabkan berbagai pemahaman terhadap kejadian selalu bersifat Purisentris, yang mengakibatkan apapun selalu menguntungkan keluarga Puri, seperti contoh : jika ibu ada yang melahirkan anak kembar buncing maka pada jaman dahulu ibu tersebut dan suaminya beserta anak-anaknya dalam beberapa waktu harus diasingkan, biasanya akan diharuskan tinggal di dekat kuburan desa sedangkan jika keluarga Puri yang melahirkan kembar buncing, maka akan ada pesta yang sangat meriah karena dianggap berkah dan seluruh warga masyarakat wajib untuk datang ke Puri untuk ngaturang ayah.

Suatu perubahan yang terjadi pada ranah masyarakat lokal memang tidak bisa dilepaskan pada situasi yang terjadi secara nasional maupun global, namun perubahan cara kehidupan masyarakat lokal terutama pada daerah urban sangat mempengaruhi perubahan yang terjadi tersebut, karena dengan adanya arus urbanisasi berbagai pengaruh dapat ditimbulkannya termasuk cara pandang masyarakat terhadap pola kehidupan yang telah ada sebelumnya.

Sebagaimana yang diketahui Bali merupakan daerah yang menjadi daerah tujuan pariwisata dunia yang tentunya akan berarti mengalami tekanan dari globalisasi dengan sangat kuat dan intensif. Globalisasi merupakan bentuk perkembangan dunia yang tidak dapat dihindari, namun perkembangan dunia tersebut menimbulkan berbagai pengaruh yang sangat besar pada kehidupan masyarakat di dunia.

Berbagai pergeseran baik dalam bidang politik, ekonomi, maupun sosial budaya terjadi begitu cepat dan tidak ada yang dapat menghindarinya. Arus informasi, barang, uang maupun manusia bergerak sangat cepat sehingga seakan-akan tidak ada lagi batas di dunia ini. Globalisasi yang terjadi memang menimbulkan berbagai effek positif bagi perkembangan dunia, namun tidak dapat dipungkiri effek negatifnya pun tidak kalah banyak mempengaruhi kehidupan masyarakat di dunia termasuk di Bali ditandai dengan memudarnya budaya Bali itu sendiri.

Salah satu bentuk pergeseran yang terjadi di Bali khususnya Karangasem adalah terjadinya pemudaran terhadap sistem kasta, dimana dalam kehidupan masyarakat Bali keberadaan sistem kasta akan menimbulkan stratifikasi kekuasaan. Namun globalisasi memberikan dampak bahwa terjadi perubahan cara pandang masyarakat Karangasem terhadap sistem kasta sehingga melahirkan sebuah transformasi kekuasaan pada masyarakat Karangasem selain juga karena pengaruh dari sistem pemerintahan yang diterapkan di Indonesia.

Untuk memfokuskan penulisan makalah ini maka akan ditekankan pada diskripsi transformasi kekuasaan masyarakat Karangasem yang terjadi akibat pengaruh globalisasi.

2. Rumusan Masalah

Dari rumusan latar belakang yang telah disampaikan di depan, maka rumusan masalah yang disampaikan dalam makalah ini adalah : "bagaimana bentuk transformasi kekuasaan yang terjadi pada masyarakat Karangasem-Bali sebagai akibat dari pengaruh globalisasi?"
3. Kerangka Pemikiran

Untuk menggambarkan terjadinya transformasi kekuasaan akibat pengaruh globalisasi yang terjadi pada masyarakat Karangasem maka akan digambarkan sebagai berikut :

Dengan gambar di atas dapat dijelaskan bahwa masuknya pengaruh globalisasi pada masyarakat Karangasem yang pada akhirnya melahirkan perubahan yang terjadi pada masyarakat baik itu dari segi politik, ekonomi, dan sosial budaya. Akibat perubahan tersebut pula berdampak pada cara pandang masyarakat terhadap sistem kasta. Dengan adanya perubahan masyarakat terhadap cara pandang terhadap sistem kasta yang kemudian akhirnya melahirkan transformasi kekuasaan pada masyarakat Karangasem.

4. Sistem Kekuasaan di Bali

Dalam sistem kasta di Bali dikenal dengan adanya pengelompokan masyarakat ke dalam 4 (empat) kasta yakni : Brahmana, Ksatriya, Weisya, dan Sudra. Dalam hubungan keempat kasta ini masyarakat yang berasal dari kasta triwangsa, yakni yang berasal dari kasta brahmana, ksatriya, dan weisya sangat memegang peranan
dalam kehidupan masyarakat Bali, bahkan dalam era otonomi daerah dengan pelaksanaan Pilkada peranan kasta triwangsa juga sangat berperan penting dalam masyarakat untuk memilih Bupati/Wakil Bupati.

Dalam pergaulan sehari-hari pun masyarakat yang berkasta sudra berkedudukan sangat rendah. Seperti misalnya seorang yang berasal dari kasta sudra harus menggunakan Sor Singgih Basa, untuk menghormati kasta-kasta yang lebih tinggi. Dalam penggolongan kasta di Bali dibagi menjadi 4 (empat) kelompok yaitu:

a. kasta Brahmana.

Kasta brahmana merupakan kasta yang memiliki kedudukan tertinggi, dalam generasi kasta brahmana ini biasanya akan selalu ada yang menjalankan kependetaan. Dalam pelaksanaanya seseorang yang berasal dari kasta brahmana yang telah menjadi seorang pendeta akan memiliki sisya, dimana sisya-sisya inilah yang akan memperhatikan kesejahteraan dari pendeta tersebut, dan dalam pelaksanaan upacara-upacara keagamaan yang dilaksanakan oleh anggota sisya tersebut dan bersifat upacara besar akan selalu menghadirkan pendeta tersebut untuk muput upacara tersebut. Dari segi nama seseorang akan diketahui bahwa dia berasal dari golongan kasta brahmana, biasanya seseorang yang berasal dari keturunan kasta brahmana ini akan memiliki nama depan "Ida Bagus untuk anak laki-laki, Ida Ayu untuk anak perempuan, ataupun hanya menggunakan kata Ida untuk anak laki-laki maupun perempuan". Dan untuk sebutan tempat tinggalnya disebut dengan griya.

b. Kasta Ksatriya

Kasta ini merupakan kasta yang memiliki posisi yang sangat penting dalam pemerintahan dan politik tradisional di Bali, karena orang-orang yang berasal dari kasta ini merupakan keturuna dari Raja-raja di Bali pada zaman kerajaan. Namun sampai saat ini kekuatan hegemoninya masih cukup kuat, sehingga terkadang beberapa desa masih merasa abdi dari keturunan Raja tersebut. Dari segi nama yang berasal dari keturunan kasta ksariya ini akan menggunakan nama "Anak Agung, Dewa Agung, Tjokorda, dan ada juga yang menggunakan nama Dewa". Dan untuk nama tempat tinggalnya disebut dengan Puri.

c. kasta Wesya

Masyarakat Bali yang berasal dari kasta ini merupakan orang-orang yang memiliki hubungan erat dengan keturunan raja-raja terdahulu. Masyarakat yang berasal dari kasta ini biasanya merupakan keturunan abdi-abdi kepercayaan Raja, prajurit utama kerajaan, namun terkadang ada juga yang merupakan keluarga Puri yang ditempatkan diwilayah lain dan diposisikan agak rendah dari keturunan asalnya karena melakukan kesalahan sehingga statusnya diturunkan. Dari segi nama kasta ini menggunakan nama seperti I Gusti Agung, I Gusti Bagus, I Gusti Ayu, ataupun I Gusti. Dinama untuk penyebutan tempat tinggalnya disebut dengan Jero.

d. Kasta Sudra

Kasta Sudra merupakan kasta yang mayoritas di Bali, namun memiliki kedudukan sosial yang paling rendah, dinama masyarakat yang berasal dari kasta ini harus berbicara dengan Sor Singgih Basa dengan orang yang berasal dari kasta yang lebih tinggi atau yang disebut dengan Tri Wangsa. Sampai saat ini masyarakat yang berasal dari kasta ini masih menjadi parekan dari golongan Tri Wangsa. Dari segi nama warga masyarakat dari kasta Sudra akan menggunakan nama seperti berikut :

- Untuk anak pertama : Gede, Putu, Wayan.

- Untuk anak kedua : Kadek, Nyoman, Nengah

- Untuk anak ketiga : Komang

- Untuk anak keempat : Ketut

Dan dalam penamaan rumah dari kasta ini disebut dengan umah.

Dengan uraian yang telah disampaikan di atas dalam penulisan makalah ini yang dimaksud dengan struktur kekuasaan dalam masyarakat Bali adalah struktur yang tercipta dalam kehidupan masyarakat Bali yang menciptakan elit-elit lokal dalam kehidupan masyarakat Bali. Dimana terbentuknya struktur kekuasaan tersebut banyak dipengaruhi oleh faktor budaya sebagai warisan leluhur masyarakat Bali melalui sistem kasta, yang dapat digambarkan sebagai berikut :

5. Transformasi Kekuasaan akibat pengaruh globalisasi di Karangasem

Menurut Agus Salim Pola perubahan sosial ada dua macam yaitu yang datang dari negara (state) dan yang datang dari bentuk pasar bebas (free market). Perubahan yang dikelola oleh pemerintah berorientasi pada ekonomi garis komando yang datang secara terpusat, sedangkan dari pasar bebas-campur tangan pemerintah sangat terbatas. Negara memberi pengaruhnya secara tidak langsung, sehingga pasar bebas lebih dominan.

Jika pada bagian struktur kekuasaan masyarakat Bali telah disampaikan bagaimana sistem kekuasaan Bali melalui sistem kasta, namun setelah mendapat pengaruh globalisasi kehidupan masyarakat Bali yang diwujudkan dalam usaha pengalihan sistem kasta menjadi sistem warna. Adapun gambaran mengenai sistem warna dapat dijelaskan sebagai berikut.

Bagi sebagian orang di Indonesia dan mungkin sebagian masyarakat Bali tidak mengenal sistem Warna dalam masyarakat Bali karena selama ini mengenal bahwa sistem pembagian masyarakat Bali hanya berdasarkan kasta saja. Namun tidak dapat dipungkiri memang kasta telah menjadi suatu sistem pengelompokan dan pemetaan kuasa masyarakat di Bali.

Warna adalah suatu sistem pembagian atau pengelompokan masyarakat berdasarkan fungsi yang dilaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Jika seseorang tersebut bekerja sebagai seorang pendeta atau menjalankan fungsi-fungsi kependetaan maka dia akan berfungsi sebagai warna brahmana, jika orang tersebut bekerja sebagai pemimpin di masyarakat maka dia akan berfungsi sebagai wangsa ksatriya, atau jika seseorang bekerja sebagai seorang pejabat penting lainnya dia akan disebut sebagai orang yang menjalankan warna weisya, dan jika seseorang yang melaksanakan pekerjaan sehari-harinya sebagai buruh atau tenaga lepas dari seseorang maka ia dikatakan sebagai seseorang yang menjalankan fungsi sebagai warna sudra.

Akhir-akhir ini perdebatan mengenai kasta dan warna di Bali semakin menuai banyak pendapat, baik itu yang bersifat menerima apa adanya sebagai warisan leluhur, ada yang mencoba mengkritisi sebagai bentuk protes sosial dan upaya untuk menciptakan sirkulasi elit, ada yang mencoba memilahnya sesuai dengan situasi yang ada misalnya menerapkan konsep kasta ketika pada situasi adat istiadat namun menerima sistem warna sebagai praktek dalam kehidupan modern, dan terakhir ada yang menganggap bukan permasalahan serius ketika kekuasaan bisa diraih dengan berbagai macam cara.

Salah satu pendapat yang mencoba mengkritisi kasta dan warna, sebagaimana yang disampaikan oleh Made Kembar Kerepun, bahwa sistem Kasta di Bali merupakan sebuah rekayasa yang dibuat oleh masyarakat di Bali yang sangat cerdas dimana untuk menguatkan rekayasa tersebut para masyarakat yang disebut dengan aktor cerdas tersebut dengan sengaja membuat acuan-acuan dalam teks yang dalam kehidupan masyarakat Bali disebut dengan lontar yang bertujuan untuk membuat perlindungan utuk menguatkan rekayasa tersebut, dimana penulis mengemukakan sebagai payung hukum, dan pembenar. Made Kembar juga menyampaikan bahwa dengan adanya rekayasa tersebut telah merugikan, mensubordinasi, memarjinalkan, bahkan mendiskriminasi kaum di luar lingkungan Tri Wangsa dalam kehidupan sehari-hari.

Di Karangasem sendiri tranformasi kekuasaan pada masyarakat ditunjukkan oleh terjadinya pergeseran pada pemegang kekuasaan. Dimana pada kekuasaan dengan sistem kasta menempatkan Puri Karangasem sebagai penguasa penuh, namun dengan adanya pengaruh pandangan baru terhadap masyarakat Karangasem merubah peta kekuasaan itu sendiri yang ditandai dengan lahirnya elit-elit baru di masyarakat Karangasem.

Hal ini ditunjukkan dengan sudah 3 (tiga) generasi Bupati tidak pernah dijabat oleh keluarga Puri Karangasem. Ketika memasuki masa kemerdekaan Indonesia, keturunan Puri Karangasem tersebut yang menjadi Bupati pertama Karangasem adalah anak pertama AAAA Ketut Karangasem, yakni Anak Agung Gede Jelantik. AA Gede Jelantik sempat digantikan oleh kalangan bukan Puri Gede (Puri Karangasem), yakni I Gusti Lanang Rai. Pengganti I Gusti Lanang Rai kembali berasal dari Puri Gede, yaitu Anak Agung Gede Karang-ayah AA Arya Mataram-hingga 2,5 kali masa jabatan (12 tahun) menjadi Bupati Karangasem.

Setelah masa itu, dari Puri Karangasem tidak ada lagi yang menjabat sebagai Bupati Karangasem. Mulai tahun 1970-an masa partai-partaian, tiga bupati di Karangasem tidak berasal dari puri dan biasanya jatah polisi. Bupati tersebut adalah I Ketut Merta, Sm.ik, kemudian pasca reformasi dijabat oleh Drs. I Gede Sumantara Adi Prenata, dan I Wayan Geredeg.

Selain dari dominasi terhadap jabatan Bupati, indikasi terhadap memudarnya kekuasaan Puri Karangasem juga bisa dilihat dari munculnya elit-elit baru yang mampu menguasai sumber-sumber ekonomi masyarakat Karangasem. Dengan pengaruh globalisasi dengan sistem kapitalismenya adanya elit baru di bidang ekonomi tersebut membuat terjadinya pergeseran pandangan masyarakat terhadap siapa yang berkuasa, karena dengan melihat kondisi perekonomian masyarakat Karangasem maka masyarakat akan cenderung "ikut" pada pemilik modal. Beberapa elit ekonomi baru yang muncul di Karangasem seperti : Gusti Tusan, Suryanata Sari, dan I Wayan Geredeg. Gambaran transformasi kekuasaan yang terjadi adalah sebagai berikut :


Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa terjadinya transformasi kekuasaan di Karangasem salah satunya mendapat pengaruh dari globalisasi yang memberikan cara pandang baru termasuk melahirkan kapitalisme. Dimana transformasi kekuasaan tersebut ditandai dengan adanya elit-elit baru yang mampu menggeser dari kekuasaan Puri yang berasal dari sistem kasta. Selain itu transformasi kekuasaan juga melahirkan diperjuangkannya sistem warna sebagai sebuah bentuk hubungan dalam masyarakat.

Sunday, 20 June 2010

Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi dalam Filsafat Ilmu Pengetahuan

Ontologi

Ontologi ialah hakikat apa yang dikaji atau ilmunya itu sendiri. Seorang filosof yang bernama Democritus menerangkan prinsip-prinsip materialisme mengatakan sebagai berikut :

Hanya berdasarkan kebiasaan saja maka manis itu manis, panas itu panas, dingin itu dingin, warna itu warna. Artinya, objek penginderaan sering kita anggap nyata, padahal tidak demikian. Hanya atom dan kehampaan itulah yang bersifat nyata.

Jadi istilah “manis, panas dan dingin” itu hanyalah merupakan terminology yang kita berikan kepada gejala yang ditangkap dengan pancaindera.

Ilmu merupakan pengetahuan yang mencoba menafsirkan alam semesta ini seperti adanya, oleh karena itu manusia dalam menggali ilmu tidak dapat terlepas dari gejala-gejala yang berada didalamnya.

Dan sifat ilmu pengetahuan yang berfungsi membantu manusia dalam mememecahkan masalah tidak perlu memiliki kemutlakan seperti agama yang memberikan pedoman terhadap hal-hal yang paling hakiki dari kehidupan ini. Sekalipun demikian sampai tahap tertentu ilmu perlu memiliki keabsahan dalam melakukan generalisasi. Sebagai contoh, bagaimana kita mendefinisikan manusia, maka berbagai penegertianpun akan muncul pula.

Contoh : Siapakah manusia iu ? jawab ilmu ekonomi ialah makhluk ekonomi

Sedang ilmu politik akan menjawab bahwa manusia ialah political animal dan dunia pendidikan akan mengatakan manusia ialah homo educandum.

Epistemologi

Yang dimaksud dengan epistimologi ialah bagaimana mendapatkan pengetahuan yang benar.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mendapatkan pengetahuan ialah :

1. Batasan kajian ilmu : secara ontologis ilmu membatasi pada Pengkajian objek yang berada dalam lingkup manusia tidak dapat mengkaji daerah yang bersifat transcendental.
2. Cara menyusun pengetahuan : untuk mendapatkan pengetahuan menjadi ilmu diperlukan cara untuk menyusunnya yaitu dengan cara menggunakan metode ilmiah.
3. Diperlukan landasan yang sesuai dengan ontologis dan aksiologis ilmu itu sendiri
4. Penjelasan diarahkan pada deskripsi mengenai hubungan berbagai faktor yang terikat dalam suatu konstelasi penyebab timbulnya suatu gejala dan proses terjadinya.
5. Metode ilmiah harus bersifat sistematik dan eksplisit
6. Metode ilmiah tidak dapat diterapkan kepada pengetahuan yang tidak tergolong pada kelompok ilmu tersebut.
7. Ilmu mencoba mencari penjelasan mengenai alam dan menjadikan kesimpulan yang bersifat umum dan impersonal.
8. Karakteristik yang menonjol kerangka pemikiran teoritis :

a. Ilmu eksakta : deduktif, rasio, kuantitatif

b. Ilmu social : induktif, empiris, kualitatif

Aksiologi

Aksiologi ialah menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu. Ilmu tidak bebas nilai. Artinya pada tahap-tahap tertentu kadang ilmu harus disesuaikan dengan nilai-nilai budaya dan moral suatu masyarakat; sehingga nilai kegunaan ilmu tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat dalam usahanya meningkatkan kesejahteraan bersama, bukan sebaliknya malahan menimbulkan bencana.

Contoh kasus : penelitian di Taiwan

Dampak kemajuan teknologi moderen telah diteliti dengan model penelitian yang terintegrasi, khususnya terhadap masyarakat dan budaya. Hasil kemajuan teknologi di Taiwan telah membawa negara itu mengalami “keajaiban ekonomi”, sekalipun demikian hasilnya tidak selalu positif. Kemajuan tersebut membawa banyak perubahan kebiasaan, tradisi dan budaya di Taiwan. Berdasarkan penelitian tersebut terdapat lima hal yang telah berubah selama periode perkembangan teknologi di negara tersebut yaitu :

1. Perubahan-perubahan dalam struktur industri berupa meningkatnya sektor jasa dan peranan teknologi canggih pada bidang manufaktur.
2. Perubahan-perubahan dalam sruktur pasar berupa pasar menjadi semakin terbatas, sedang pengelolaan bisnis menjadi semakin beragam.
3. Perubahan-perubahan dalam struktur kepegawaian berupa tenaga professional yang telah terlatih dalam bidang teknik menjadi semakin meningkat.
4. Perubahan-perubahan struktur masyarakat berupa meningkatnya jumlah penduduk usia tua dan konsep “keluarga besar” dalam proses diganti dengan konsep “keluarga kecil”.
5. Perubahan-perubahan dalam nilai-nilai sosial berupa penghargaan yang lebih tinggi terhadap keuntungan secara ekonomis daripada masalah-masalah keadilan, meningkatnya kecenderungan masyarakat untuk bersikap individualistik.

Lalu apa maksudnya Aksiologi ? Jangan menurut saya yah..Menurut si Louis Kattsof aja lah (1992:327) dia mendefinisikan bahwa Aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki tentang hakikat segala sesuatu. Di dunia ini terdapat banyak pengetahuan yang bersangkutan dengan masalah nilai yang khusus, seperti ekonomi, estetika, etika, filsafat agama dan apistimologi. Estetika berhubungan dengan masalah keindahan, etika berhubungan dengan masalah kebaikan, dan epistimologi berhubungan dengan masalah kebenaran.

Permasalahan tentang "hakikat nilai" dapat di jawab dengan tiga macam cara; orang dapat mengatakan bahwa :
1. Nilai sepenuhnya berhakikat subjektif. Ditinjau dari sudut pandang ini, nilai merupakan reaksi-reaksi yang diberikan oleh manusia sebagai pelaku dan keberadaannya tergantung pada pengalaman-pengalaman mereka.
2. Nilai-nilai merupakan kenyataan-kenyataan ditinjau dari segi ontologi, namun tidak terdapat dalam ruang dan waktu. Nilai tersebut merupakan esensi-esensi logis dan dapat diketahui melalui akal. pendirian ini dinamakan "objektivisme logis". Akhirnya orang juga dapat mengatakan bahwa
3. Nilai-nilai merupakan unsur objektif yang menyusun kenyataan. Yang demikian ini disebut "objektivisme metafisik".

Baiklah, saya coba sederhanakan saja. Jadi, secara sederhananya aksiologi adalah ilmu yang membicarakan tentang tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri. Nah, dalam hal ini telah terjadi perdebatan panjang antara para filusuf tentang tujuan ilmu pengetahuan. Sebagian berpendapat bahwa pengetahuan sendiri merupakan tujuan pokok bagi yang menekuninya, dan mereka menyatakan bahwa "ilmu pengetahuan untuk ilmu pengetahuan", sebagaimana mereka mengatakan "seni untuk seni". Sebagian berpendapat bahwa tujuan ilmu pengetahuan adalah upaya para peneliti menjadikan alat atau jalan untuk menambah kesenangan hidup di dunia ini. Sebagian menyatakan bahwa ilmu pengetahuan merupakan alat untuk meningkatkan kebudayaan dan kemajuan bagi umat manusia secara keseluruhan. Adapun dalam Islam bahwa ilmu pengetahuan merupakan alat untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi dari sekedar tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri. Karena di balik kehidupan materi ini ada lagi kehidupan yang mereka lalaikan, yakni kehidupan akhirat (QS Ar-Ruum: 6-7), maka tujuan ilmu pengetahuan dalam Islam adalah untuk menggapai Ridlo Allah SWT dalam meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.
fuihhhh....dah panjang lebar yah, ya intinya mah aksiologi itu adalah ilmu yang mempelajari hakikat dan manfaat yang sebenarnya dari pengetahuan, dan sebenarnya ilmu pengetahuan itu tidak ada yang sia-sia kalau kita bisa memanfaatkannya dan tentunya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan di jalan yang baik pula. Karena akhir-akhir ini banyak sekali yang mempunyai ilmu pengetahuan yang lebih itu dimanfaatkan di jalan yang tidak benar. Ya sebagai contohnya jangan jauh-jauh lah, para koruptor di Negeri kita tercinta ini sebenarnya kan memanfaatkan ilmu pengetahuan di jalan yang tidak benar, klo yang (maaf) kurang ilmu pengetahuannya kan paling juga nyuri ayam, bebek atau yang lainnya lah yang paling juga berapa sih kerugian yang di dapatnya dan bandingkan sodara hukuman yang didapatkannya dengan para koruptor. Tapi yang punya ilmu pengetahuan pasti jauh lebih dapat merugikan, jangan jauh-jauh contohnya kasus BLBI saja merugikan negara berapa Triliyun?? BENAR TRILIYUNAN SODARA!!! bandingkan dengan yang nyuri ayam??Selain itu, kita mungkin sudah menjadi rahasia umum yah bahwa yang bisa mengutak-atik keuangan negara pastinya dia ahli keuangan, yang banyak melanggar hukum sudah pasti yang sangat mengerti hukum (di Indonesia lho yah...). Memang, hidup di dunia ini tidak bisa kalau tanpa uang, bahkan uang bisa dijadikan Tuhan kedua oleh mereka (atau Tuhan yang pertama yah??dan bahkan satu-satunya) di mata mereka? Kan kalau kita liat lagi, latar belakang pekerjaan mereka kan anggota DPR atau gubernur BI yang saya yakin tidak akan kekurangan untuk kehidupan sehari-harinya. Jadi, kalau kita lihat dari hirarki kebutuhan Maslow berarti kan kalau terus-menerus hanya mencari uang (para koruptor) berarti mereka masih terus berkutat di hirarki paling bawah yah (Kebutuhan fisiologi)...Saya rasa kelas mereka sudah seharusnya berada pada hirarki paling atas yaitu aktualisasi diri, jadi menunjukkan kinerja terbaiknya, bukan terus berkutat di hirarki terendah.
Hehehehe... Jadi melenceng gini.. Tenang-tenang...Abisnya kesel sih hehehe... udah ah segitu aja, takut melenceng tambah jauh lagi.























ноутбуки

Menggugurkan Prinsip “Bebas-Nilai” dalam Kajian Ilmu Sosiologi

Hampir mayoritas sosiolog akan berpendapat bahwa ilmu sosiologi menggunakan prinsip “value free” (bebas nilai) demi menjaga obyektivitas dan keilmiahan sebuah ilmu atau teori. Unsur nilai yang memasukkan asumsi subyektivitas ke dalam kajian sosiologi akan menyebabkan ketidakobyektifan sebuah gagasan. Kriteria yang menentukan apakah sebuah kajian itu ilmiah atau tidak ditentukan oleh bagaimana kemampuan seorang peneliti dalam memaparkan informasi secara obyektif. Tuntutan dalam prinsip bebas nilai adalah kegiatan ilmiah yang didasarkan pada hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri.[1] Artinya, tidak ada campur tangan eksteral di luar struktur obyektif sebuah pengetahuan. Obyektivitas hanya bisa diraih dengan mengandaikan ilmu pengetahuan yang bebas nilai (value-neutral).
Untuk memahami perdebatan dalam persoalan prinsip “bebas-nilai” dalam ilmu-ilmu umumnya, kita sebaiknya mengkaji pembedaan ilmu berdasarkan ilmu yang teoritis dan praktis. Cita-cita ilmu teoritis adalah memberikan penjelasan tentang suatu realitas (kenyataan) tanpa sikap berpihak, dan tanpa dipengaruhi oleh hasrat dan keinginan tertentu. Jadi, pengetahuan yang ingin didapat adalah pengetahuan yang berasal realitas obyektif. Pengetahuan teoritis melukiskan kenyataan yang ada, dan sebatas pada deskripsi atas kenyataan itu, bukan justru melukiskan kenyatan yang dinginkan atau dikehendaki. Sedangkan pengetahuan yang praktis sudah masuk pada sikap bagaimana melakukan kerja teoritis itu yang kemudian menghasilkan pengetahuan yang kurang obyektif, yang berpihak pada kepentingan dan keinginan tertentu, yang tidak lagi disinterested. Dalam pengetahuan yang kedua ini persoalan nilai menjadi sesuatu yang pasti akan terjadi. Menurut Ignas Kleden, dalam pengertian pengetahuan yang praktis ini terkandung dua makna, yaitu persoalan nilai dan kepentingan yang akan menimbulkan perdebatan dan pernyataan apakah pengetahuan itu bebas nilai dan tanpa adanya kepentingan.[2]
Kalau dalam makna pengetahuan yang bebas nilai, sosiologi itu sekedar menjadi ilmu yang mendeskripsikan kenyataan obyektif, dan berputar pada persoalan teoritis. Tidak ada campur tangan seorang peneliti dalam kajian dan pengamatannya. Di sinilah kemudian ada cap yang teralamatkan pada pengetahuan dengan makna demikian sebagai pengetahuan yang tidak perlu memecahkan masalah karena jika sudah seperti itu maka persoalan nilai dan kepentingan pasti akan masuk. Menurut Ilyas Ba-Yunus, jika kita teliti sumbangan-sumbangan para pelopor sosiologi modern yang kini dianggap klasik, ternyata terlihat bagaimana mereka melakukan penilaian-penilaian tentang fenomena-fenomena yang dikajinya walaupun dengan klaim tetap berprinsip netralitas nilai. Ia menunjuk Weber ketika menyebut kapitalisme yang terorganisasi secara birokratis itu ternyata dilengkapi dengan semacam kepentingan (self-importance), Durkheim yang menjelaskan bunuh diri dari sudut kejahatan juga berusaha untuk mencari pemecahannya, dan Agust Comte yang sangat dikenal sebagai pelopor positivisme dalam sosiologi mengklaim bahwa ilmu yang digagasnya itu dapat memecahkan masalah.[3] Jadi, tidak bisa semata-mata itu bebas nilai, pasti ada campur tangan nilai dan kepentingan ke mana arah manfaat dan tujuan sebuah ilmu. Atau ilmu itu tidak semata-mata teoritik, tapi juga terkandung kegunaan praktisnya. Dalam hal ini sosiologi profetik tidak hanya terpaku pada ilmu teoritik saja, tapi juga bersifat praktis.Berbicara soal kepentingan, Habermas menyebut ada tiga kepentingan kognitif yang bertengger di balik ilmu pengetahuan dalam tiga bidang keilmuan[4]: ilmu alam, ilmu-ilmu historis-hermenutis, dan ilmu-ilmu kritis. Dalam ilmu alam yang berikhtiar menemukan hukum alam, akhirnya ada upaya penguasaan teknis atas proses-proses yang dianggap obyektif. Ilmu historis-hermeneutis tidak disusun secara deduktif dengan acuan kontrol teknis, tapi yang dilakukannya adalah menafsirkan teks dengan kepentingan mencapai saling pengertian dan konsensus. Sedangkan pada ilmu-ilmu kritis yang dikandungnya adalah kepentingan kognitif emansipatoris yang dilakukan lewat jalan refleksi diri seorang ilmuan. Dengan demikian Habermas menapik asumsi banyak kalangan dengan mengatakan bahwa pengetahuan itu tidak mungkin berdiri tanpa kepentingan apapun, walaupun tetap diakuinya bahwa pengetahuan itu tidak boleh membiarkan subyektivitas mendominasi.
Lalu, Habermas membuat lima butir tesis dalam teorinya atas pengetahuan.[5] Pertama, pencapaian-pencapaian subyek transedental memiliki dasar dalam sejarah amalam spesies manusia. Kedua, pengetahuan berlaku sebagai alat pertahanan diri sekaligus melampaui pertahanan diri semata-mata. Ketiga, kepentingan-kepentingan kognitif manusia itu berada pada tiga medium organisasi sosial, yakni: kerja, bahasa, dan kekuasaan. Keempat, di dalam kekuatan refleksi diri, pengetahuan dan kepentingan menyatu. Dan yang kelima, kesatuan antara pengetahuan dan kepentingan dapat dibuktikan dalam suatu dialektika yang memiliki jejak-jejak sejarahnya dari dialog yang ditindas dan merekonstruksi apa yang telah ditindas. Dengan kelima tesis ini Habermas menghujamkan kritikannya terhadap positivisme dan sainstisme. Artinya, ia mengkritik kenaifan ilmu pengetahuan yang bernafsu mencari teori murni yang bebas dari opini-opini subyektif, tendensi-tendensi, penilaian moral, dan kepentingan lainnya.
Prinsip bebas nilai dalam ilmu pengetahuan itu menafikan adanya “historisisme” yang sangat menentukan bagaimana konstruksi atas pengetahuan itu. Jika dilihat menurut kacamata sosiologi pengetahuan maka sesunggunya ilmu itu tidak bebas nilai, tapi sangat terkait dengan konteks historis kemunculannya. Max Scheler dan Karl Mannheim, dari aliran sosiologi pengetahuan, menentang ide mengenai ilmu-ilmu sosial yang bebas nilai. Keduanya menyatakan bahwa pikiran, bahkan pikiran logis para ilmuan sekalipun, dibentuk secara historis dan itu, baik disadari atau tidak, sedang merefleksikan kebudayaan mereka sendiri dan perspektif sosial yang mereka adopsi. Seorang ilmuan memang harus mengatasi prasangka-prasangka mereka dengan memperbaiki kadar kualitas pembacaan mereka atas realitas, dengan berpangkal pada obyektivitas, tapi pada saat yang sama mereka harus mengklarifikasi asumsi-asumsi yang mendasar, memahami lokasi-lokasi sosial mereka sendiri dalam masyarakat, dan juga secara kritis mempertanyaan cita-cita sosial yang ada di masyarakat.[6] Jadi, konstruksi berpikir seorang ilmuan tidak bisa terlepas dari konteks historisnya, yang itu kemudian menuntut dirinya mampu memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Ideal pengetahuan obyektif Abad Pencerahan “membasmi” semua pra-pendapat subyektif untuk membentuk suatu pendekatan yang “netral” dan “obyektif”. Hal ini dimaksudkan agar terbebas dari bias-bias emosional, afektif, dan pribadi, dengan mengunggulkan akal dan metodologi yang logis sebagai jalan menuju pencerahan. Pengetahuan yang dihasilkan seperti ini adalah akibat historis yang terkondisikan oleh faktor-faktor sosio-kultural dengan bangkitnya pemikiran Abad Pencerahan. Berkebalikan dari nuansa abad itu, Gadamer menegaskan kembali pentingnya tradisi dan prasangka dalam memahami segala sesuatu. Seorang ilmuan tidak bisa terlepas dari batas-batas tradisinya. Tradisi sangat terkait dengan prasangka yang melatarbelakangi penafsiran kita atas realitas. Pentingnya tradisi dan prasangka ini menjadi upaya yang dilakukan oleh Gadamer dalam hermeneutikanya. Memahami (understanding) terkondisikan oleh masa lalu (“tradisi” kita) dan prasangka kita pada saat sekarang. Yang ingin ditekankan oleh Gadamer adalah pentingnya tradisi sebagai sebuah faktor yang mengkondisikan dan menjaid batas yang jelas dalam cara-cara di mana orang menafsirkan teks. Dalam proses menafsirkan itu, menurut Gadamer, pasti melibatkan proyeksi nilai, kepentingan, dan agenda seseorang ke dalam teks. Dalam perspektif Gadamerian, “kebenaran” itu tidak pernah final, definitif atau obyektif, karena terkondisikan historisnya.[7] Kata Gadamer, orang tidak dapat memahami sesuatu tanpa menghubungkannya dengan “ke-ada-an dirinya sendiri di dunia”. Konsep penafsiran obyektif dan bebas nilai menjadi problematis untuk diterapkan secara pasti.[8] Maka, ketika kita memahami teks maupun juga realitas, yang terjadi justru “relativisme”, bukan universalisme dan absolutisme kebenaran. Apa yang ingin diraih dalam netralitas nilai untuk mencapai obyektivitas dan keilmiahan sebuah ilmu menjadi absurd.
Ada sebuah tafsiran mengenai nilai yang dilihat menurut kaca mata sosiologi. Kita mungkin pernah mendengar pernyataan Max Weber, salah satu tokoh yang mengembangkan sosiologi, yang sampai pada kesimpulan bahwa sosiologi harus bersifat bebas-nilai. Memang, tafsiran Weber mengenai rasionalitas ada yang berorientasi pada nilai.[9] Tapi, nilai apa yang dimaksud di sini? Seorang pengikut Weberian, Peter L. Berger, menyatakan bahwa hampir tidak mungkin bagi seseorang manusia berada tanpa suatu nilai apapun. Ia mengakui bahwa seorang ahli sosiologi secara normal memang mempunyai banyak nilai, tapi dalam batas-batas kegiatannya sebagai seorang ahli sosiologi hanya ada satu nilai fundamental, yaitu integritas ilmiah.[10] Jadi, nilai yang dimaksud adalah integritas seorang sosiolog dalam mencapai pengetahuan yang obyektif. Seorang sosiolog dengan berbagai macam praduga dan subyektivitas yang mungkin muncul pada dirinya, maka dia harus mampu mencoba memahami dan mengendalikan kemencengan yang harus dihapuskan dalam karya-karyanya.
Apakah dengan pernyataan Weber yang mengambil kesimpulan bahwa sosiologi itu harus bebas nilai menafikan adanya historisitas sebuah kebenaran obyektif? Rasionalitas yang dibangun Weber ternyata secara konsisten bersifat historis, yaitu menempatkan diri di dalam makna suatu zaman di mana ilmu pengetahuan tidak mampu lagi menciptakan makna karena agama dan pengetahuan telah diceraikan.[11] Di tengah memudarnya pesona modernitas dengan nihilisme makna, Weber masih berkeyakinan bahwa Tuhan dan nilai-nilai pemandu bisa untuk dipilih. Tuhan tidak mati, dan justru pengetahuan tidak bisa lagi menciptakan nilai-nilai mengenai diri kita sendiri.[12] Maksud dari teori sosial Weber yang bersifat historis adalah karena pengetahuan yang dihasilkan dari modernitas --salah satu sisi historis peradaban pada Abda Pencerahan-- itu memiliki kekaburan makna maka kita kini sebaiknya menciptakan makna-makna baru dengan tidak menafikan peran nilai dan Tuhan (agama) sebagai pemandu.


[1] Joseph MMT Situmorang, “Ilmu Pengetahuan dan Nilai-nilai”, dalam Majalah Driyarkara, Tahun XXII, No.4, hal. 13.
[2] Ignas Kleden, Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan, (Jakarta: LP3ES, 1988), cet.II, hal.24-25.
[[3] Ilyas Ba-Ynus, op.cit, hal. 37.
[4] F. Budi Hardiman, Menuju Masyarakat Komunikatif: Ilmu, Masyarakat dan Politik menurut Jurgen Habermas, (Yogyakarta: Kanisius, 1993), hal. 8-10.
[5] Ibid, hal. 11-14.
[6] Gregory Baum, Agama dalam Bayang-bayang Relativisme, terj. A. Murtajib Chaeri dan Masyhuri Arow, (Yogyakarta: Tiara Wacana dan Sisiphus, 1999), hal. 23-24.
[7] Lihat Richard King, Agama, Orientalisme, dan Postkolonialisme, terj. Agung Prihantoro, (Yogyakarta: Qalam, 2001) hlm. 137-144.
[8] Hans Georg Gadamer, Truth and Method, (New York: Seabury Press, 1975), hal. 15.
[9] Rasionalitas merupakan konsep dasar yang digunakan Weber dalam klasifikasinya mengenai tipe-tipe tindakan sosial. Tindakan rasional (menurut Weber) menurut pertimbangan yang sadar dan pilihan bahwa tindakan itu dinyatakan. Weber membagi rasionalitas tindakan ini ke dalam empat macam, yaitu: rasionalitas instrumental, rasionalitas yang berorientasi nilai, tindakan tradisional, dan tindakan afektif. Rasionalitas instrumental sangat menekankan tujuan tindakan dan alat yang dipergunakan dengan adanya pertimbangan dan pilihan yang sadar dalam melakukan tindakan sosial. Dibandingkan dengan rasionalitas instrumental, sifat rasionalitas yang berorientasi nilai yang penting adalah bahwa alat-alat hanya merupakan pertimbangan dan perhitungan yangs sadar; tujuan-tujuannya sudah ada dalam hubungannya dengan nilai-nilai individu yang bersifat absolut atau nilai akhir baginya. Lihat Paul Johnson, op.cit., hal. 220-1.
[10] Peter L. Berger, Humanisme Sosiologi, terj. Daniel Dhakidae, (Jakarta: Inti Sarana Aksara, 1985), hal. 11.
[11] Peter Beilharz, Teori-teori Sosial, terj. Sigit Jatmiko, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), hal. 370.
[12] Max Weber, From Max weber, peny. H.H. Gerth dan C.W. Mills, (London: Routledge, 1948), hal. 155.

Tuesday, 8 June 2010

It's a bad day

Today I went to campus and finded all my friends but my right leg still sick so I couldn't walked very well. After finished my studied at university I had chosen to stayed at cantin just for relaxation after studied and ate mie ayam, uhm so yummy...

Went to home after finished the lunch but I think that not lunch. I went to Budavisa for borrowed 3 manga and 4 goosebumps. Went home at 2.25 pm and worked all my job at home. Online with my brother notebook and still looking for all about Morphology but still don't understand about that, so confussed and want to finish it but I can't 'cause this Thursday I'll presentation in front of my class about that. I'm understand now why linguist is very difficult to understand because the other linguist very different and make me confusse to understanding.

After all my experience I think my life is so wonderfull and unforgetable by myself, it's all bless from God and my own.

Friday, 14 May 2010

K'naan : Fifa World Cup Athem South Africa 2010 Lyrics

Ooooooh Wooooooh
Give me freedom, give me fire, give me reason, take me higher
See the champions, take the field now, you define us, make us feel proud
In the streets are, exaliftin , as we lose our inhibition,
Celebration it's around us, every nations, all around us

Singin' forever young, singin' songs underneath the sun
Lets rejoice in the beautifull game.
And together at the end of the day.

WE ALL SAY

When I get older I will be stronger
They'll call me freedom Just like a wavin' flag
And then it goes back
And then it goes back
And then it goes back (x2)

Oooooooooooooh woooooooooohh hohoho

Give you freedom, give you fire, give you reason, take you higher
See the champions, take the field now, you define us, make us feel proud
In the streets are, exaliftin, as we lose our inhibition,
Celebration, it's around us, every nations, all around us

Singin' forever young, singin' songs underneath the sun
Lets rejoice in the beautifull game.
And together at the end of the day.

WE ALL SAY

When I get older, I will be stronger
They'll call me freedom
Just like a wavin' flag

And then it goes back
And then it goes back
And then it goes back (x4)

Wooooooooo Ohohohoooooooo ! OOOoooooh Wooooooooo
And we are all singin' it.

The Story of Saiunkoku Monogatari I keren banget loh....

The Story of Saiunkoku (彩雲国物語, Saiunkoku Monogatari?, lit. Tale of the Land of Colored Clouds) is a series of Japanese light novels written by Sai Yukino and illustrated by Kairi Yura. As of December 2008, fourteen volumes of the series have been released. Three side story anthologies have also been released, collecting stories originally published in The Beans magazine.

A manga version, also illustrated by Kairi Yura, is serialized in Beans Ace, which is published by Kadokawa Shoten. However when Beans Ace ended, the manga was moved to Monthly Asuka. Currently, five tankōbon volumes have been released. The series has been licensed by Viz Media for an English release in North America as part their Shojo Beat imprint.

The anime adaptation series, produced by Madhouse Studios, is directed by Jun Shishido, and broadcast on the Japanese television network NHK on Saturday mornings. The first season began airing on April 8, 2006, and completed its run on February 24, 2007, airing a total of 39 episodes. The second season, titled Saiunkoku Monogatari Second Series (彩雲国物語 第2シリーズ?) began airing on April 7, 2007 and consists of another 39 episodes, ending its run on March 8, 2008.

Plot
Story

Set in the fictional empire of Saiunkoku, the story centers on Shurei Kou, a descendant of a noble family that has fallen on hard times.

Her father works as a librarian in the Imperial palace, a post which offers prestige and respect, but little compensation. Shurei teaches in the temple school and works odd jobs to make ends meet, but her dream is to pass the imperial examinations and take a post in government, a path forbidden to women.

Shurei's plans come to an abrupt halt when the Emperor's Grand Advisor makes a startling offer for her to join the imperial household for six months as the young Emperor's consort and teach the Emperor to be a responsible ruler. If she succeeds, the financial reward will be great.

The story details Shurei's growing relationship with the Emperor and other members of the court, the intrigues of imperial politics, and her commitment to better herself and her country.

Setting

According to legend, Saiunkoku was once infested by demons who threw the country into turmoil. A brave young warrior named Sō Gen gathered together the Eight Enlightened Sages of Colour and drove away the demons.

Sō Gen then forged the nation of Saiunkoku and became its first emperor. After Sō Gen's death, the eight sages disappeared, but according to legend they still exist among the people. A beautiful shrine was built for the Eight Coloured Sages and still stands within the Imperial City.

Saiunkoku had always been divided into eight provinces named after colours of the rainbow: . Six hundred years ago, the Emperor commanded each ruling clan to change its name to match its province. Commoners were forbidden to use the same family names as nobles.

List of Saiunkoku's provinces

* Ran (藍, Ran?, Indigo) — The most powerful clan in Saiunkoku, although it plays a dormant role in national politics.
* Hong (紅, Kō?, Crimson) — Equal power to Ran clan, with which it is known as the 'highest of nobility'.[n 1]
* Heki (碧, Heki?, Jade Green)-The family known to master both arts and literature.
* Ko (黄, Kō/Ki?, Yellow)[n 2]
* Haku (白, Haku?, White)
* Koku (黒, Koku?, Black)
* Sa (茶, Sa?, Brown) - The clan which held the least power in the land, trying to take their family honor higher up to a powerful degree
* Shi (紫, Shi?, Purple) — The Imperial family.
* Hyou (縹, Hyou?, Light Indigo) - A mysterious magician shadow-like clan in the story, although rarely playing any political role it also had one of great influence over the people.


Characters

Main article: List of The Story of Saiunkoku characters

Shurei Hong (紅 秀麗, Kō Shūrei?)
Shurei Hong is the daughter and only child of Shoka Hong of the Hong clan, one of the two most powerful clans in Saiunkoku. She is sixteen years old when the story begins. As a descendant of the direct line, she has the title hime, which means 'princess' or 'lady'. Despite the high social status of her clan, Shurei grew up in relatively impoverished circumstances. Her father's job brings little income, and much of the wealth of their family home was given to the needy during the devastating fight for the imperial succession eight years ago. There are no servants at the Hong residence, so Shurei has grown adept at household chores such as needlework, cooking and cleaning, traits unusual in a lady of high rank.

Ryuki Shi (紫 劉輝, Shi Ryūki?)
Ryuki Shi is the reigning emperor of Saiunkoku. He is nineteen years old when the story begins. The youngest of six brothers, he was an unlikely candidate to ascend to the throne. Of his five elder brothers, four killed each other over the succession and one was exiled for treason. Ryuki secretly hoped that Seien, his beloved older brother, would eventually return from exile and take his place as Emperor. Ryuki's avoidance of responsibility comes to an end when he meet Shurei, who tells him of her dreams to make a better life for the nation's people. Ryuki decides to take on his responsibilities and become a respectable Emperor.

Seiran Si (茈 静蘭, Shi Seiran?)
Seiran Si is a low-ranking army officer and the sole remaining retainer in the Hong household. Seiran was taken in thirteen years ago by Shoka Hong, but no one in the household knows about Seiran's past. He has made a vow to spend his life repaying the kindness of Shoka and Shurei Hong. He is a very skilled fighter and swordsman and is usually found following Shurei to guard her, even when she does not know it. Seiran is later revealed to be the previously exiled second elder brother of Ryuki, Seien. He then discreetly protects the emperor by guarding him and giving him hints on decisions to be made, as Seien was often referred to as the son with the greatest potential to become a good emperor in his childhood.

Koyu Ri (李 絳攸, Ri Kōyū?)
Though young, Koyu Ri is a civil official holding a high position in the government. He is the Assistant Secretary of Civil Affairs which is one of the ministries under the State Affairs Department of the Imperial Chamber. Koyu became the youngest person ever to pass the official examinations at the age of 16, taking the top ranked "Jougen" spot. As the series begins, Koyu is assigned directly to the Emperor, a position that infuriates him because the wandering Emperor never carries out his duties and can rarely even be found. Despite his reputation as a genius, Koyu is notorious for having no sense of direction. He gets lost in the palace within 30 steps and it sometimes takes him two hours to get to a destination that only takes 15 minutes for another person, though he does seem to find his way when there is trouble or when he is drunk.

Shuei Ran (藍 楸瑛, Ran Shūei?)
He is the General of the Shaorin army. Also part of the Ran family, one of the two greatest clans. The fourth oldest of five brothers. A very skilled swordsman and is usually calm, but likes to tease others. His fighting skills are legendary, due to his training by the Shiba clan (retainers of the Ran clan who excel in swordsmanship). He claims to be Koyu's best friend, though Koyu keeps denying it. Unlike Koyu, Shuei is a womanizer. He often mentions how nice it is to spend time with women and is surrounded by a horde of women after winning the fighting tournament.

Empire State of Mind

[Jay-Z:]

Yeah,
Yeah, I'm ma up at Brooklyn,
Now I'm down in Tribe ca,
Right next to DeNiro,
But I'll be hood forever,
I'm the new Sinatra,
And since I made it here,
I can make it anywhere,
Yeah they love me everywhere,
I used to cop in Harlem,
All of my Dominicans
Right there up on Broadway,
Brought me back to that McDonald's,

Took it to my stash spot,
5-60 State street,
Catch me in the kitchen like a Simmons whipping Pastry,
Cruising down 8th street,
Off white Lexus,
Driving so slow but BK is from Texas,
Me I'm up at Bed Study,
Home of that boy Biggie,
Now I live on billboard,
And I brought my boys with me,
Say what up to Ty Ty, still sipping Mai-tai
Sitting court side Knicks and Nets give me high fives,
N-gga I be Spiked out, I can trip a referee,
Tell by my attitude that I most definitely from

[Alicia Keys:]

In New York,
Concrete jungle where dreams are made of,
There's nothing you can't do,
Now you're in New York,
These streets will make you feel brand new,
The lights will inspire you,
Let's hear it for New York, New York, New York

[Jay-Z:]

I made you hot nigga,
Catch me at the X with OG at a Yankee game,
Shit I made the Yankee hat more famous than a yankee can,
You should know I bleed Blue, but I ain't a crip tho,
But I got a gang of niggas walking with my clique though,
Welcome to the melting pot,
Corners where we selling rocks,
Afrika bambaataa shit,
Home of the hip hop,
Yellow cap, gypsy cap, dollar cab, holla back,
For foreigners it aint fitted they forgot how to act,
8 million stories out there and their naked,

Cities is a pity half of y'all won't make it,
Me I gotta plug Special Ed and I got it made,
If Jeezy's paying LeBron, I'm paying Dwayne Wade,
3 dice cee-lo
3 card Monte,
Labor day parade, rest in peace Bob Marley,
Statue of Liberty, long live the World trade,
Long live the king yo,
I'm from the empire state that's

[Repeat Chorus:]


[Jay-Z:]

Lights is blinding,
Girls need blinders
So they can step out of bounds quick,
The side lines is blind with casualties,
Who sipping life casually, then gradually become worse,
Don't bite the apple Eve,
Caught up in the in crowd,
Now your in-style,
And in the winter gets cold en vogue with your skin out,
The city of sin is a pity on a whim,
Good girls gone bad, the cities filled with them,
Mami took a bus trip and now she got her bust out,
Everybody ride her, just like a bus route,
Hail Mary to the city your a Virgin,
And Jesus can't save you life starts when the church ends,

Came here for school, graduated to the high life,
Ball players, rap stars, addicted to the limelight,
MDMA got you feeling like a champion,
The city never sleeps better slip you a Ambient

[Repeat Chorus:]

[Alicia Keys:]

One hand in the air for the big city,
Street lights, big dreams all looking pretty,
No place in the World that can compare,
Put your lighters in the air, everybody say yeah
Come on, come,
Yeah,

[Repeat Chorus:]

Thursday, 10 December 2009

Clow Reed

Clow Reed is the creator of the Clow Cards (also referred to as "The Clow"), a series of cards resembling tarot cards with various magical powers within them. Additionally, he is the creator of Yue and Cerberus, assigned to protect The Clow and ensure that it gets passed on properly to new masters. Syaoran Li (Li Showron) is a distant relative of Clow, as Clow's mother's family is the Li Clan.

When Clow was nearing death, he chose Sakura Kinomoto (Sakura Avalon in Cardcaptors) to be the new mistress of The Clow. Sakura was not yet born at the time, but Clow's magical ability allowed him to foresee most of the future and plan many of the situations that would enable Sakura to succeed in taking full possession of the Clow Cards. This is the reason that Sakura's sealing wand is pink and cute; he wanted to make a suitable wand for the young girl who would be mistress.

Very little of Clow's personal life is known, although Kero often references his liking for playing jokes, and his constant smile and the likes and interests described in his manga quarter-page indicate that he was a content and mischievous person. There are also some hints, especially in the anime, that Clow and his creation Yue had some sort of connection that went deeper than Master and creation. However, whether this was a mutual romantic interest or simply one-sided on Yue's part in unknown.

During the first Cardcaptor Sakura movie, it is revealed that as an extremely powerful magician, Clow had a great deal of enemies, one of which is the movie's antagonist, a madoushi (sorceress) who held a bitter grudge against Clow even after she died. She is not named in the original version and simply referred to as the "Madoushi"; the English dub opted to name her "Su Yung". The Madoushi, who worked as a fortune-teller, found that Clow's ability to accurately predict the future affected her own business and developed a deep hatred for him. She challenged her rival to frequent duels and eventually cast a spell that allowed her spirit to reside in a book after she died and draw Clow Reed to her. Once released from the book by Clow (or one possessing the Clow Cards), that person would become sealed in the book in her place. In the English dub, Su Yung was actually a student of Clow's and they had loved one another. However, her desire to become powerful resulted in spreading destruction rather than using it responsibly. The two were unable to see eye to eye concerning their belief as to how magic should be used and an intense fight ensued. When she lost and died, Clow sealed her in an alternate dimension of his own creation, where she sought to free herself and pass onto the next world after taking revenge on Clow.

Sakura unintentionally releases the Madoushi during a trip to Hong Kong and the sorceress, refusing to believe Clow is dead, attacks the young cardcaptor and endangers her friends. She eventually relents when she realizes she truly loved Clow; she accepts his death and vanishes.

Clow makes an appearance in episode 46 just after Sakura has completed the Final Judgment, thus becoming the new mistress of The Clow. Here Clow explains the coincidences he had planned for Sakura--situations that would allow her to recapture all the Cards. He also advises Sakura to take care of her new power, the power that changed the original sealing wand into one that is completely Sakura's.

In episode 68, Sakura uses The Return to visit Clow prior to his death. Clow recognizes Sakura but does not concisely answer all of her questions. Sakura is mainly concerned that she would never be as great or as powerful as Clow, but Clow reminds her that she cannot keep comparing herself to him. Sakura is her own self, and she has already been fulfilling Clow's final wish, which is to allow his creations (the Cards, Cerberus, and Yue) to live in happiness under a new master. During this visit, Clow gives little to no insight about the recent mysterious happenings, though Sakura finds that out from Eriol when she returns to the present.

According to Kero in the manga, Clow Reed, having both an English and a Chinese parent, was able to combine occidental and oriental magic to create an entirely new type of magic--the Clow Cards. Like his later successor, Sakura, Clow's magic is a balance between the sun and the moon. His power is of darkness, an affiliation which his reincarnation, Eriol Hiiragizawa, shares, and which manifests itself in the chant used to release the sealing staff (which uses Clow's power until Sakura transforms it under her own power of the stars).

Clow Reed's present-day reincarnation is Eriol Hiiragizawa (Eli Moon), appearing in season three of the anime. In the manga, Sakura's father, Fujitaka Kinomoto (Aiden Avalon) is also a reincarnation (but just one-half, while Eriol is the other). Eriol retains all of Clow's past memories and all of his magic. Clow was not able to split his magic apart into the two new bodies and Eriol's final wish is for Sakura to take half of his magic and give it to her father. This wish not to be the most powerful magician was probably due to Clow Reed's desire for Yuuko to stay alive, which led to the events of Tsubasa Reservoir Chronicle.

Eriol's purpose is to create situations, much like Clow did in season one, that would allow Sakura to convert the Clow Cards into Sakura Cards, putting them wholly under her magical influence and completely finishing the transition of The Clow from Clow Reed to Sakura.

Because Eriol is Clow's reincarnation, Sakura and company continuously detect Clow's presence during Eriol's trials. This leads to suspicion in Sakura when she visits Eriol's manor in episode 65 and feels Clow's presence all over, especially in Eriol's armchair. The manor was indeed inhabited by Clow when he was alive, but Sakura does not fully realize this until the end of the series.

After learning that Clow was reincarnated, Yue protests the entire situation involving Sakura having to become the new master of The Clow. Eriol, holding Clow's memories, explains that he is not the actual Clow Reed, who would never return to this world. This is why Clow entrusted everything to Sakura. However Eriol offers to talk about his memories whenever Yue wishes.

Yuuko Ichihara, a main character in xxxHolic, repeatedly talks about Clow. While the exact nature of their relationship is uncertain, they are known to have worked together to create the two Mokonas who appear in xxxHolic and Tsubasa. Fei Wong Reed, who appears in Tsubasa: RESERVoir CHRoNiCLE, is also Clow Reed's relative, and considers Yuko and Clow as barriers.

Clow Reed is mentioned in Tsubasa: RESERVoir CHRoNiCLE, and he was personally acquainted to Yūko Ichihara. The two together created the Mokonas that would help Syaoran, Sakura, Fai and Kurogane travel across dimensions. Fei Wong Reed, the mastermind who initially guides the journey of Sakura and Syaoran across the dimensions, is an ancestor of Clow Reed's; though Fei Wong refers to Clow as an interloper in his affairs. Clow Reed is also the father of the clone Sakura-hime, and hence the real "Syaoran" is his 'grandson'.

Clow had accidentally wished for Yuuko to live, thus severing her time from all dimensions. Clow regretted this wish, and no longer wanted the title of "world's most powerful magician". After "Syaoran" had reversed time, to fill in the void left by the changed destinies of those who knew of the Seal on "Sakura", Clow travelled to Clow Country, leaving behind (he 'died' and was reincarnated) those he knew and cared about (from the manga, it appears to refer to Cerberus and Yue), as well as his power (when he died, he reincarnated himself into Eriol with all his power and memory and Fujitaka, who is the father of Cardcaptor Sakura, and in turn he moved to Clow Country), and took the role of king, becoming father to the clone Sakura and Touya. He allowed the excavation of the ruins in the country under the direction of the archaeologist, Fujitaka, and also allowed Fujitaka's adopted son, Syaoran, to become a close friend of his daughter Sakura. He would later teach Yukito, the current High Priest of Clow, his knowledge of magic.

Thursday, 26 November 2009

life

tomorrow is Idul Adha, I hope u can be better than tomorrow n can be hajj...

Monday, 23 November 2009

hujan

balikpapan hujan mulu, gak ada abiznya...
udah berapa hari hujan eh sekali gak hujan dapet panas , ya Tuhan panasnya gak ketolongan...

maklum z sih udah musim penghujan jd ya gitu deh...

bul shit

my dream, it absolutly bulshit...

Sunday, 15 November 2009

poetry to my lovely

Terlukis wajah diingatanku, getar suara terekam syahdu. Gerik lucu dari tingkahmu, membuat diriku bernuansa rindu. Berbicara saja tentang arti setia, walaupun kejujuran dihati tak pernah ada. Apakah warnanya wajah dicerminkan itu, putihkah jawabmu walau ia kelabu… Kasih ku… Terkadang hati sukar dimengerti, antara cinta teman dan kekasih. Keliru mencari jawaban pasti. Kasih ku… Hanya padamu yang ku letakkan, harap cinta dan kepastian ku percaya pada kesetian. Keikhlasan cintamu kurasa, dari sinar mata terjawab segalanya. Kasih ku… Ingin ku salami ke dasar hatiimmu, ingin kuluapkan cintaku padamu. Dikaulah yang satu dihati mu… Menggigil tubuh ini melihat kau bersamanya. Tega membuatku tak berkata, meraung dijiwa, puasku pertahankan. Cintaku sejak dulu tapu sayang sedikit pun tidak menghargai cintamu.

my feel

Sejauh apa kamu mengenal diriku, hingga sejauh mana kamu mengerti akan arti hadirnya aku didunia ini. Apakah hanya sebagai menakin saja? Atau sebagai pajangan dalam rumah? Manusia yang kau keluarkan dari rongga gelap itu, kini telah tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang akan memasuki fase-fase menjadi seorang wanita. Bukan bimbingan yang didapat oleh jiwa ini melainkan caci maki hingga hinaan yang mungkin bagimu suatu hal yang biasa kau lakukan. Sebenarnya apa yang harus ku perbuat untuk meredam gelegar murka yang sehari-hari bisa kurasakan itu, banyak orang mengatakan untuk sabar hingga melakukan aksi DIAM. Walau hal-hal tersebut kulakukan apa ada yang bisa kulakukan agar kau mengakui keberadaanku ini. Berdasarkan perasaanku yang sering melihat dirimu selama hidupku ini aku telah mengerti dirimu sepenuhnya dan memahami apa yang kamu inginkan dari hidupmu ini. UANG, UANG, dan UANG yang hanya kau pikirkan tanpa peduli perasaan orang lain jika kamu marah dan menyinggung persoalan UANG. Didalam hatimu cuma menganggap UANG dapat menjamin dirimu. Segala sumpah serapah yang kau berikan dan lontarkan padaku selama ini hanya kusimpan sebagai suatu memori yang dapat mengingatkan diriku akan keberadaan sesosok yang sangat membenci kehadiranku ini, mungkin bukan “benci” yang kau tujukan tapi suatu perasaan kecewa akan diriku yang tidak bisa menjadi sesosok manusia yang engkau inginkan. Mungkin kata maaf tidak cukup sebagai penghapus dosa yang telah aku perbuat dan juga pengampunan darimu akan bisa menjadi penenang keadaan jiwa yang sedang terguncang ini.

Saturday, 31 October 2009

I lUph h1m

Do you know if I'm really falling in love with you. Just see and say hello make me fell fly. This filling can't I tell you because it will broke our friendship, you and me not long see and in relation as friend but that fill meke me mad . I want tell you if I LOVE YOU but I hope you understand

Friday, 11 September 2009

kuliah que

uaduh... hari ni buanyak buanget tugas dri dosen... mana dosennya cuma satu kali tatap muka tapi dah ngasih buanyak buanget tugas makalah, maklum dianajar tiga mata kuliah sekaligus. dia juga lagi pulang kampung jadi yah wajar... mana bulan oktober nanti udah ujian trus januarinya UAS. gimana nih ...? qu dikasih uang ma mba sis 100rb gtu. truz niatnya mau ku tabung tapi que naksir ma dompet yang ada di volcom keren banget sayang harganya mahal banget 300rb lebih bo...

Tuesday, 16 June 2009

bosannya nunggu pengumuman

padahal cuma selembar kertas yang berisi pemberitahuan LULUS / TIDAK LULUS aja lamanya gak ketolongan.. lama buanget nunggu untuk mendapatkan selembar kertas itu T-T

Wednesday, 6 May 2009

cape deh.........

hari ni tadi ku ujian kewirausahaan ma ekonomi sumpah ku kayaknya banyak salah deh ma jawaban yang ku isi tadi bisnya pertanyaannya beribet banget gitu trus njelimet dah pokoknya... Qu dah nyerah deh ma hasil ujian UAS nti , cape rasanya ngejalaninnya tapi tu emang dah keharusan buat ku ngejalanin nya kan? jam 2 nti di rumahku ada acara slamatan biasa hari rabu slamatan ibu-ibu rt 37, sebenarnya ku males banget pulang tapi gimana yah ku gak tega lia mama nti kerja sendirian aja di dapur. yah ntar lagi ku pulang kerumah buat bantu-bantu mama deh tapi aku kok ngerasa yah tiap kali pulang kerumah pasti perasaan sakit di dada ini trus rasanya sesak , entahlah gimana bilangnya tapi sesak yang menekan di bagian tulang rusuk dekat ma tajuk pedang kalo udah gitu nyerinya gak ketolongan deh.

Tuesday, 5 May 2009

pusingggggggggg........

aku pusing nih biz nya bingung mau kuliah dimana?

uas sekolah hari selasa 5 mei

gila.......... mau ketawa aza aku hari ini pas ngerjain uas tadi gimana gak ujian pertama tadi penjas nah belum jam 8 anak-anak diruangan ku sudah pada selesai semua gimana gak keren tuh... ujian kedua juga gitu gak lama cuma 45 menit doang dari 2 jam waktu yang dikasih buat ujian tadi ^_^ gini ceritanya kisi-kisi yang dikasih sama pak Marno tu sama persis soalnya sama soal ujian so pas qu baca soalnya yah langsung aja ku tulis jawabannya pokoknya dari soal no 1-20 lancar aja eh liat soal no 21-28 mati kutu aku gak bisa jawab cos soalnya mengenai bola voli yah mana ku tahu itu truz kisi-kisi juga kagak ada yang nyangkut masalah bola voli, kubiarin aja tu nomor n qu lanjutin aja soal selanjutnya 29-50 tapa hambatan sama sekali. Nah biz tu tanya deh ma Desy n Lina truz selesai dah tinggal di kumpul aja padahal tu gak ampe jam 8 loh ^_^ trus pas kkpi juga ku kerjai ja yang bisa truz nanya deh ma Lina, Endang n Desy hehehe... bis ada yang aku gak ngerti sih @_< besok ujiannya kewira ma ekonomi tapi ku nyerah deh ma 2 pelajaran ni biznya guru yang ngajar ogep-ogep kaga jelas ngajarnya sih, udah gtu jarang masuk pula...

uas nya soal gila...

kemaren uas hari senin kemaren ujian Agama sama PKn. gila soal pkn sama sekali gak ada yang dipelajari, sebenarnya sih tu pelajaran klaz 1 tapi kan soal-soalnya dah lepas dari materi kisi-kisi yang di kasih sama pak Bin, bikin kesel aza pas ngerjain soalnya... nah jam pertama kan agama tuh, soalnya alhamdulillah guampang buanget tapi qu gak ngerti sama sekali pas soalnya nyangkut masalah tajwid, bah susahnya gak karuan gak ngerti napa biz buanyak buanget ciri-cirinya. Sebenarnya ngerti sih hanya saja susah banget kalimat penjelasnya buat dicerna ma otak -_-